Blogger news

Sunday, 12 June 2016

I Am Ambivert

Dari masa-masa gue remaja, gue selalu yakin kalo diri gue ini adalah seorang yang introvert. Gue meyakini hal itu sampai satu tahun lalu gue iseng ikut test psikologi kepribadian dan gue kaget akan hasilnya. Yap, gue bukan introvert, tapi ambivert.
Buat kalian yang baru pertama kali denger dan bingung apa itu ambivert, jadi ambivert adalah sesorang yang punya kepribadian introvert dan ambivert. Jadi kadang kamu ngerasa introvert tapi kadang juga kamu merasa jadi orang yang ekstrovert.

Kalau kamu bingung apakah kamu ambivert juga kaya gue, mungkin ciri-ciri di diri gue ini juga pernah kalian alamin di kehidupan kalian.

1. Bertemu Orang Baru di Tempat Baru
Gue selalu merasa gue seneng kenalan dengan orang baru tapi gue ga cukup berani buat memulai percakapan. Tapi di sisi lain gue excited saat orang lain yang mulai ngajak gue ngobrol dan memulai percakapan. 

2. Pergi ke Acara Pertemuan/Reuni/Undangan
Sejujurnya gue seneng kalo diundang ke acara pertemuan, atau reuni ataupun kadang gue pengen ikut ke satu komunitas atau satu perkumpulan yang gue rasa sesuai dengan passion gue. Tapi gue gabisa pergi sendiri atau gabung di kegiatan itu sendiri, gue harus punya at least satu temen buat nemenin gue. Gue akan lebih nyaman kalo ada 1 orang temen deket gue ikut nemenin, karena gue susah memulai perkenalan di awal dan gue akan banyak diam tapi untuk selanjutnya gue bakal sering ngomong kalo udah kenal satu sama lain. Satu lagi alasan kenapa gue harus ngajak temen gue adalah gue itu super awkward person, gue canggung abis dan kadang suka kikuk sendiri jadi ya kalo ada temen mengurangi kekhawatiran gue untuk jadi canggung didepan orang yang gue belom akrab.

3. Centre of Attention?
Gue gasuka jadi pusat perhatian dan diliatin banyak orang dalam lingkup yang besar (pernah request ke bos supaya gausah kasih surprise ultah karena gamau dinyanyiin orang sekantor dan jadi perhatian mereka), tapi gue lumayan suka jadi centre of attention dalam lingkungan teman yang lebih kecil seperti diantara 4-5 orang. Gue suka bikin joke2 saat lagi sama teman2 deket gue tapi jangan harap gue berani buat ngomong didepan kelas. Nope.

4. Percakapan 
Gue suka ngobrol, suka banget. Tapi dengan orang-orang yang gue anggap dekat dan nyaman. Saat gue dalam satu diskusi yang melibatkan banyak orang mungkin gue akan lebih sering jadi pendengar dari pada orang yang berkontribusi memberikan pendapat, tapi bukan berarti gue bakal diam sepanjang diskusi. Tapi kalau udah bahas topik yang gue suka, mau itu lingkup segede apa juga gue jabanin.

5. Perspektif dari Orang Lain
Orang-orang yang ada disekitar kamu kasih pandangan yang berbeda tentang kamu. Kaya orang kantor ada beberapa yang bilang gue ini outgoing dan mudah bergaul walaupun dalam hati gue ga ngerasa seperti itu. Di sisi lain ada juga yang bilang gue pendiam dan harus sering-sering ngumpul walaupun dalam hati gue mau ngumpul tapi ya kadang gue malas aja. 

6. Hang Out or Stay at Home
Gue seneng kalo diajak main sama temen-temen gue, gue jarang nolak ajakan main kecuali kalo gue lagi boke hahahaha. Tapi gue bukan tipe orang yang setiap ada waktu luang harus pergi keluar dan ga betah lama-lama dirumah. Gue juga bisa ngabisin waktu libur gue seharian dirumah cuam buat internetan atau leyeh-leyeh dikamar. Jadi ya hidup harus balance deh hahaha

Tuh kalo kamu ngalamin apa yang gue alamin bisa jadi kalian juga ambivert kaya gue, jadi kalian gausah bingung kalo kadang ngerasa jadi introvert atau kadang jadi extrovert, itu berarti kamu ada ditengah-tengah yaitu ambivert. Gue butuh waktu sekitar 23 tahun buat tau kalo gue ini ambivert karena gue selalu ngira gue ini introvert padahal gue ini ambivert ditambah awkward aja. 

Segitu dulu postingan gue kali ini, semoga bisa menambah wawasan kalian, dan juga ngisi waktu ngabuburit kalian. Sampai ketemu di postingan selanjutnya, Danke!

Tuesday, 7 June 2016

Antara Aku, Kamu dan Indomie #3

Sudah masuk minggu kedua liburan semester dan aku masih tidak tahu mau menghabiskan waktu liburku untuk apa. Riana pergi ke luar kota bersama keluarga besarnya karena ada acara keluarga, Lintang mengambil part time untuk jadi SPG di event, Deri pun demikian. Aku terlalu malas untuk berpartisipasi dalam kegiatan seperti itu walaupun temanku selalu mengatakan kalau bayaran untuk menjadi volunteer atau SPG itu lumayan untuk tambahan uang jajan selama liburan. Tapi menurutku bagaimana kita bisa pakai uangnya untuk liburan kalau waktu liburannya dipakai untuk bekerja.

Aku menghabiskan waktu liburku hanya dirumah melakukan DVD marathon dan membaca buku-buku yang belum sempat aku baca. Hari ini aku berencana pergi ke dokter gigi untuk scaling karena sudah hampir dua tahun aku tidak pernah ke dokter gigi.

Jam dikamar sudah menunjukkan pukul 15:30 aku segera mengambil tas selampang yang kugantung dibelakang pintu lalu segera pergi menuju dokter gigi. Lokasi praktek dokter gigi lumayan jauh dari rumah, sebenarnya dekat rumah ada juga dokter gigi tapi dari aku kecil sudah terbiasa ke dokter ini, drg. Lia sudah menjadi langganan keluargaku untuk masalah gigi dan mulut dan kebetulan dua tahun lalu beliau pindah tempat praktek itulah mengapa aku malas untuk kontrol gigi.

Aku menelpon ojek langgananku dan ternyata Bang Aji si ojek langgananku itu sedang menarik penumpang, jadi kuputuskan pesan ojek online. Setelah 5 menit aku tunggu di teras akhirnya ojekku datang. 

Sesampai di tempat praktek drg. Lia aku segera mendaftar dan harus menunggu karena ada sekitar 2 orang yg masih mengantri. Kuambil headset di tasku dan segera kunyalakan lagu dari hp ku untuk menghilangkan rasa bosan. Saat aku asyik memainkan hpku, aku merasa ada seseorang yang berdiri didepanku padahal aku yakin kursi tunggu masih banyak yang kosong. Kudengakkan kepalaku dan ternyata seorang lelaki kira-kira dengan tinggi 180cm menggunakan kacamata dan aku seperti familiar dengan mukanya. Aku memandangnya dengan bingung, dia menggerakan bibirnya seakan mengajakku bicara. Aku segera lepaskan headset dari telingaku dan dia pun mengulangi ucapannya "kamu Dara kan?" tanyanya.
aku pun menjawab dengan nada bingung "i...ya, kok kenal?"
"hahaha pasti kamu lupa deh, aku Niko" jawabnya dengan nada meyakinkan.
Aku menatap matanya dan terdiam sejenak mengingat-ingat apakah dikehidupanku yang lalu aku pernah memiliki teman yang namanya Niko. Mukaku agak ragu "Niko yang mana ya?" tanyaku lagi walaupun dalam hati aku sedang membodoh-bodohi diriku sendiri karena terlahir jadi orang yang agak pikun.
"Niko SMPN 15, masa ga inget ih parah banget kita kan pernah sekelas dulu" jawabnya dengan nada sedikit kecewa.
Aku terdiam lagi masih menatapnya dengan wajah bingung, 3 detik kemudian aku tersontak kaget mengingat siapa laki-laki ini "Oh!!!! Niko kelas 2B dulu ya, yaampun maaf bukannya lupa tapi mukamu beda banget sama pas SMP dulu"
"Iya, masa sih beda? perasaan ga oplas deh" ledeknya.
"Iya dulu kan kamu ga pake kacamata, terus dulu kamu kurus banget ih beda banget" jawabku sambil tetap menatapnya sambil kagum juga temanku jaman SMP ini bisa jadi setampan ini sekarang.
"Hahaha iya sih, kamu kesini mau ngapain? eh maksudku mau kontrol atau ngapain?" tanya Niko.
"Oh iya mau kontrol, ternyata kamu kesini juga ya kalo periksa gigi? kok selama ini kita ga ketemu ya?" tanyaku.
"oh engga kok aku jarang kesini, aku cuma nganter adikku kontrol. Ehmmm aku agak buru-buru sih boleh minta nomormu aja ga Dar, next time kita janjian aja buat ngobrol-ngobrol lagi" ucap Niko.
"Oh okay sini aku ketik sendiri aja" jawabku
Niko langsung memberikan hpnya kepadaku dan kusimpan nomorku di hp dia "namanya Dara SMP 15 ya terserah sih kalau mau kamu ganti hehehe" ucapku sambil bercanda.
Hpku langsung berdering.
"itu ya nomorku, aku pamit dulu ya adikku udah ngintip-ngintip tuh dari mobil. Sampai ketemu lagi ya Dar" pamit Niko sambil menjabat tanganku lalu pergi menuju mobilnya.

Niko pun pergi akupun kembali sibuk dengan hp ku karena aku masih harus menunggu 1 antrian lagi.

***

Jumat pagi aku terpaksa dibangunkan oleh panggilan masuk yang berulang-ulang. Aku bangun dari kasurku dan jalan dengan malasnya menuju hp ku yang berada di meja. Belum sampai aku ke meja hp ku berdering lagi, aku lihat ternyata dari Deri dan segera aku angkat.
"Ada apa sih Der pagi-pagi berisik banget nelponin mulu" jawabku dengan nada kesal dan masih mengantuk.
"Dar temenin aku nyari kado yuk sama beli cake, aku lupa banget hari ini nyokap ulang tahun" jawab Deri dengan tergesa-gesa.
"Haduuuh harus banget sama aku ya? Kamu ngapain sih ngos-ngosan gitu?" tanyaku dengan bingung.
"Ya emang mau sama siapa lagi? Aku juga bingung mau kadoin apa makanya nanti disana minta saran kamu sekalian. Mau ya ya ya?" jawab Deri memelas tapi agak memaksa.
Entah kenapa sekesal aku dengan Deri aku tetap mau menolongnya bahkan permintaan sekonyol apapun pasti aku turuti "Hmmm iya" jawabku singkat.
"Yaudah jam 10 aku jemput oke? Bye" ucap Deri bersemangat sambil menutup teleponnya.
"Eh! Kurang ajar langsung ditutup" gumamku kesal.

Aku pun kembali ke tempat tidur, baru saja ingin tidur beberapa menit aku melihat jam dikamarku dan mencoba menenangkan diri "Deri emang kurang ajar jam 10 kan setengah jam lagi, dikira pergi ga pake mandi dan siap-siap dulu".
Aku langsung bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Aku mengenakan pakaian apa saja yang aku lihat pertama kali di lemariku. Aku pun tidak sempat dandan dan hanya bisa menggunakan bedak dan lipbalm bahkan tidak sempat menyisir rambutku karena ternyata Deri sudah ada di ruang tamu. Aku segera meraih tasku dan bergegas turun kebawah.

Aku menghampirinya dengan muka masam lalu ia langsung pamit kepada ibuku. Aku diam saja. Sepanjang perjalanan menuju mall Deri terus mengajakku ngobrol tapi aku masih agak kesal dengannya jadi aku jawab saja seadanya.

Setelah keliling mall kurang lebih 1 jam akhirnya Deri mendapatkan kado dan cake untuk ibunya. Kita mampir di salah satu restoran karena kita sudah sama-sama lapar dan kebetulan aku memang belum sarapan. Kita duduk di kursi untuk dua orang dan agak kepojok. Sambil menunggu makanan tiba aku mengacek handphoneku dan ternyata ada 2 pesan whatsapp dari Niko.
"Kamu liburan beneran ga kemana-mana?" tanya Deri melepas keheningan.
"Hah? Oh iya engga kamu kan tau aku lebih suka dirumah, palingan kalo bosen main aja sama anak-anak" jawabku sambil sesekali melihat ke handphoneku.
"Lagi chat sama siapa sih sibuk banget kayanya" sindir Deri dengan nada mengejek.
"Apaan sih, ini temen SMPku, abisan kamu sok sibuk banget sih chat ku dibalesnya lama banget" jawabku balik menyindirnya.
Tidak berapa lama makanan kami pun tiba, dan tanpa pikir panjang langsung kita santap karena memang kita berdua sudah sangat lapar.
Saat kami sibuk dengan makanan masing-masing Deri mengatakan sesuatu yang bikin aku penasaran sampai tak terlalu nafsu makan.
"Dar, nanti aku mampir rumahmu dulu ya bentar, mau ngobrol-ngobrol aja sama mau cerita. Udah lama kan kita ga ketemu"
"yaudah sekarang aja ngobrolnya" jawabku
"nanti aja ah gaenak dibahasnya kalau disini, berisik" jawab Deri lalu melanjutkan makan.

Aku penasaran dan mulai menduga-duga hal apa yang akan diceritakan Deri. Tapi semakin aku menduga-duga semakin aku pusing memikirkannya. "udahlah ngapain sih Dar mikir aneh-aneh" ucapku dalam hati lalu melanjutkan makan.

Nb:
Antara Aku, Kamu dan Indomie Part #1
Antara Aku, Kamu dan Indomie Part #2